SOFTSKILL


Dewasa ini istilah softskill masih sangat awam. Dan Efeknya sangat berpengaruh terhadap sumber daya kita, terutama di Indonesia yang masih sangat minim dalam pengembangannya. Pemerintah belakangan ini menganggap jumlah pengangguran intelektual yang semakin banyak dipicu oleh mahasiswa yang memiliki softskill rendah. Hasil riset dari “Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan” bahwa softskill menentukan sukses atau tidaknya seseorang dalam dunia kerja, sedangkan sisanya hardskill atau teori akademik cenderung hanya diambil semasa kuliah. Lulusan perguruan tinggi yang memiliki softskill jauh lebih dibutuhkan ketimbang menguasai bidang keilmuan saja. Kementeriaan Pendidikan dan Kebudayaan pun untuk ke depannya meminta ke seluruh perguruan tinggi negeri maupun swasta untuk mengembangkan pendidikan keterampilan bagi mahasiswanya apalagi pada tahun 2015 akan ada pasar bebas ASEAN di mana pekerja dalam negeri akan terancam dengan berdatangannya para pekerja asing. Untuk mengantisipasi hal itu maka pemerintah menuntut pendidikan tinggi untuk mengembangkan softskill guna meminimalisasi angka pengangguran intelektual itu. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) dari jumlah 7,17 juta pengangguran sekitar 610.000 orang merupakan pengangguran intelektual yang terdiri dari atas pengangguran lulusan Diploma I/II/III dengan jumlah mencapai 0,19 juta (2,69%) dan lulusan universitas sebanyak 0,42 juta (5,88%). Softskill yang biasanya dibutuhkan dalam dunia kerja seperti managerial skill, komunikasi, kepemimpinan, ataupun disiplin.Praktiknya dapat melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) dan kegiatan berorganisasi lainnya karena biasanya mahasiswa yang aktif berorganisasi maupun kepanitiaan-kepanitiaan tertentu biasanya memiliki bekal softskill yang lebih baik. Yuk tingkatkan softskill kamu👍 #kuliahonlinemedan #elearningmedan #stiemedan #sekolahtinggimedan #kuliahgratismedan #kampusgratismedan #kuliahmurahmedan #kampusmurahmedan #sarjanamedan #kampusmedan #kuliahsambilkerjakerjasambilkuliah